Jawa Tengah mempunyai semboyan Prasetya Ulah Sakti Bhakti Praja
(Berjanji akan berusaha keras dan setia terhadap negara) Provinsi ini merupakan simbol sekaligus pusat dari kebudayaan Jawa yang adiluhung. Orang barat menyebut Jawa sebagai Java dan kerap menjadikannya sebagai objek penelitian yang didedikasikan untuk negaranya sendiri. Sebut saja orang seperti Greg Barton, Cliford Gertz adalah sarjana-sarjana asing yang serius menelisik dimensi manusia dan pola sosial di Jawa. Dahulu Jawa menjadi salah satu bangsa metropolis dunia. Kemegahan Candi Borobudur menjadi bukti yang tak terbantahkan dari keperkasaan Jawa sebagai sebuah bangsa berperadaban tinggi. Lalu kita tidak sedang melakukan romantisme saja, namun fakta membuktikan ada potensi yang sangat besar dari leluhur-leluhur kita dan saat ini belum maksimal kita gunakan.
Sekiranya kita menyalahkan kolonialisme yang menjadi biang keladi kemunduran bangsa Jawa maka mungkin ini bisa diterima sebagaimana diungkapkan oleh sejarawan Malaysia, bahwa tercerai berainya bangsa Melayu juga akibat dari penjajahan bangsa Eropa selama beratus-ratus tahun. Namun kini kita telah merdeka baik secara de facto ataupun de jure. Penjajahan fisik tidak lagi harus disesali, kita tinggalkan sebagai bahan pelajaran agar tidak terjerembab dalam jeratan kolonialisme model baru dalam bentuk hukum rimba pasar bebas. Negara-negara dunia pertama khususnya lima negara anggota tetap PBB sangat membutuhkan pasar bagi produk-produk industri mereka seperti produk IT, otomotif, fashion, makanan, sampai barang kecil seperti peniti.
Indonesia khususnya Provinsi Jawa Tengah yang mempunyai penduduk + 31.799.000 jiwa dengan kepadatan 955 jiwa per-hektar merupakan pasar yang sangat besar bagi produk-produk di atas. Jika kita melihat tercukupinya kebutuhan-kebutuhan warga masyarakat Jawa tengah dengan serbuan barang-barang murah luar negeri maka itu satu hal yang cukup bagus dari sisi individu. Namun demikian akan sangat fatal jika ini diihat dari kacamata makro ekonomi di Jawa Tengah. Sirkulasi uang dari propinsi ini dihamburkan keluar negeri dan memakmurkan negeri lain. Potensi SDA dan SDM akan diangkut keluar, lalu apa bedanya dengan penjajahan tempo dulu. Ini harus dihadapi oleh segenap elemen termasuk yang terbaru adalah tantangan perdagangan bebas China dan negara-negara di Asia (CAFTA), merupakan tantangan besar bagi kita masyarakat Jawa Tengah. Semua elemen tanpa terkecuali harus mengakumulasikan semua kekuatannya untuk menghadapi tantangan pasar bebas terlebih saat ini dunia sudah kehilangan batas dan sekat teritori dengan munculnya teknologi internet hingga ke kamar-kamar kita.
Disisi SDA kita memiliki energi terbarukan dan tidak terbarukan baik di darat maupun di laut sebut saja potensi pertanian, perkebunan dan kehutanan, potensi kandungan minyak bumi blok Cepu, potensi maritim di pantai utara dan selatan Jawa. Kemudian potensi SDM dari para akademisi di perguruan tinggi negeri ataupun swasta adalah modal yang sangat besar untuk menghadapi pasar bebas. Kita membutuhkan daya dukung sosial dan keberlanjutan fungsi-fungsi sumber daya yang dimiliki, keterpaduan seluruh sektor dalam usaha memakmurkan rakyat. Pemanfaatan dan pengembangan pengetahuan hasil karya negeri sendiri perlu ditingkatkan, alokasikan sebesar-besarnya dana pembangunan untuk melakukan riset-riset yang berguna secara masal bagi peningkatan kualitas hidup. Pergunakan sumber energi yang terbarukan seperti tenaga hidro, panas bumi, tenaga surya, tenaga angin, biomasa, dan lain-lain untuk menggantikan ketergantungan terhadap BBM yang harganya fluktuatif di pasaran dunia.
Jawa Tengah harus mampu mengabsorbsi segenap inspirasi dari kebesaran masa lalu menjadi etos kerja bahwa kita tidak boleh kalah dari wilayah-wilayah lain di dunia, jika Jerman mempunyai bremen sebagai pusat tembakau kita punya kudus, jika China punya Guang Zou sebagai pusat industri rumah tangga kita punya Tegal, jika Amerika punya pantai Florida kita punya potensi di pantai Ayah Kebumen yang lautnya terbentang hingga ke kutub selatan. Kita juga mempunyai museum geologi terlengkap di dunia yang terletak di Karangsambung Kebumen, dan masih banyak lagi potensi-potensi yang terdapat di 29 kabupaten dan 6 kota se-Jawa Tengah sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Cita-cita agung para pendiri Republik ini seperti Soekarno, Tan Malaka adalah menjadikan Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat dalam makna yang sebenarnya. Cita-cita proklamasi kemerdekaan mengandung pesan dan pengertian bahwa kemerdekaan tidak akan serta merta terwujud dengan dibacakannya naskah proklamasi. Kemerdekaan dan kedaulatan yang sejati ialah lepas dari hegemoni, pendiktean imperealisme (kapitalisme global) yang sesungguhnya telah mencengkram Negara dunia ketiga, jauh sebelum proklamasi kemerdekaan. Pertanyaannya sekarang, sudahkah bangsa ini merdeka dan berdaulat dengan sebenarnya menurut cita-cita para pendiri bangsa? Miris memang jika menjawab dengan jawaban yang jujur, “belum!”. Para elit penguasa sekarang sadar ataupun tidak malah mengubur dalam-dalam cita-cita tersebut dan mengukuhkan imperialisme dengan cara yang beragam.
Disatu sisi, imperialisme terus menerus berusaha mengukuhkan dominasinya di Negara miskin dan berkembang. Di sisi yang lain mereka juga mempunyai kaki tangan di Negara dunia ketiga yakni para elit pengusa dan kaum terdidik yang dengan sukarela membantu menyebarkannya, mereka seperti para marsose kompeni. Oleh karenanya Indonesia akan selalu terjajah dan bermental terjajah.
Implikasi neo-imperealisme dalam kehidupan bangsa sangatlah mengerikan. Pertama, bangsa ini tidak pernah bisa independen mengambi keputusan-keputusan strategis tanpa pendiktean dari pihak luar. Kedua, proses kehidupan berbangsa berjalan tanpa akumulasi menuju Negara yang kuat. Kekayaan Negara dunia ketiga dirampok, hutang yang sekarang mereka tanggung adalah karena perampokan itu. Otoritas pemerintah daerah juga terbatas dan wajib mengamini apa yang menjadi program dari pusat, kerangka otonomi daerah dalam hal ini menjadi semu.
Para pengambil keputusan tertinggi masih terperangkap pada mental perang dingin. Jika para pengambil kebijakan itu bisa membaca dengan teliti tentang munculnya kekuatan-kekuatan baru dalam percaturan geopolitik internasional, mereka akan belajar dan mengambil tindakan yang lain. Dengan demikian kebijakan yang diambil tidak akan merugikan kepentingan bangsa sendiri.
Indonesia yang sangat kaya raya dan sangat penting bagi percaturan kepentingan Asia Pasifik ini dituntut berpartisipasi aktif dalam laju masyarakat Asean. Komunikasi strategis antar pulau harus lebih ditingkatkan. AS akan membangun pangkalan militer di sebuah pulau di Sulawesi Utara. Dalam keadaan demikian, NKRI menjadi pertaruhan nyata. Tahun 2012 hutang Indonesia akan jatuh tempo dan diperkirakan tidak mampu dibayar. Ada beberapa kemungkinan terjadi, ada pulau yang akan di jual; pendirian pangkalan AS di Sulawesi untuk mengepung China; asset Negara dijual; Indonesia dibelah jadi beberapa Negara bagian dll.
Kita harus mampu mengelola SDM dan SDA kita dengan baik agar kita benar- benar menjadi pelopor bagi masyarakat Asean. Situasi ini menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk benar-benar bisa bangkit dari keterpurukan. Di satu sisi situasi pertarungan geopolitik global juga akan menyebabkan munculnya upaya memecah-belah Indonesia supaya mudah dijarah kekayaannya dan ditundukkan sebagai kawasan yang sangat strategis bagi pertahanan. Maka mempertahankan NKRI adalah pertarungan besar.
Dalam rangka itulah seperangkat analisis internal dan eksternal mesti kita lakukan, baru kemudian bisa menyusun kerangka strategi gerakan. Sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan bangsa Indonesia, maka PMII sudah semestinya menjadikan kenyataan Indonesia sebagai basis utama gerakannya, sebagaimana dalam bait mars PMII; bangsa yang jaya, Islam yang benar , bangun tersentak dari bumiku subur, juga bait; untukmu satu tanah airku, untuknmu satu keyakinanku. Jelaslah PMII mencita- citakan kejayaan bangsa Indonesia.
PMII adalah organisasi mahasiswa dengan berbagai latar belakang pendidikan, kultur, etnis, dan status social-ekonomi, mempunyai kesamaan isi dan cita- cita pergerakan . Di Jawa Tengah sendiri ada para kader yang tersebar di cabang dan menjadi organisasi mahasiswa ekstra kampus terbesar di Jawa Tengah baik dari segi jumlah cabang maupun jumlah anggotanya. Oleh karena itu, keberadaan organisasi ini sangat penting bagi kelanjutan pembangunan bangsa ini. Berbagai upaya penataan organisasi ini baik di internal maupun eksternalnya merupakan sebuah keniscayaan sebagai upaya untuk menjadikan organisasi ini benar- benar bagus dan bisa menjalankan isinya dengan baik dan lancar.
Dalam sejarahnya mahasiswa senantiasa menjadi actor penting dalam perubahan masyarakat, baik era 1908, 1928, 1945, 1966, 1974, maupun 1998. Semua peristiwa besar menunjukkan jelas betapa peran mahasiswa sangat besar. Oleh karena itu, mahasiswa sering dijadikan sebagai tolak ukur wajah kepemimpinan negeri ini di masa mendatang.
Lifting musuh mahasiswa Indonesia zaman ini sebetulnya anak- anak muda bangsa lain yang sekarang ini sedang belajar di Negara lain yang lebih maju. Maka lawan kita ini yang sekarang kita hadapi adalah serbuan arus tenaga kerja dan system ekonomi yang saat ini arusnya sangat terasa dari Negara- Negara luar yang lebih maju. Sehingga pertaruhan kita ke depan adalah soal survivalitas kita sebagai bangsa.



