Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kebumen memandang pemilukada putaran pertama pada 11 April yang lalu sebagai patahan demokrasi. Dari luar terlihat berlangsung dengan kondusif tapiĀ ternyata dicacati aksi bagi-bagi uang yang dilakukan secara langasung atau tidak langsung dari semua kubu. Sudah barang tentu praktik kecurangan yang terjadi akan membawa citra buruk bagi perkembangan demokrasi di kabupaten Kebumen.
Praktek yang disebut dalam budaya lokal sebagai pergenthoan menggejala sudah sejak pemilihan kepala desa dan berlanjut ketika momen pemilihan pemimpin baik skup lokal ataupun nasional. PMII dengan metodologi berfikir Ahlu sunnah wal jamaah menentang keras segala bentuk money politik karena mudah memicu konflik horizontal. Kami menghimbau kepada panwaslu dan aparat keamanan dari tingkat kabupaten hingga kecamatan untuk lebih serius mengatasi kecurangan dan bertindak professional. Dalam pilkada tahap ke-2. jangan ragu menangkap basah oknum-oknum yang kedapatan melakuan praktek serangan-serangan fajar.
Pada pemilukada tahap ke dua PMII tetap berkomitmen pada posisi netral aktif. Kami menyayangkan pihak-pihak yang mencatut nama PMII untuk kepentingan tertentu sehingga dihadapan publik PMII terkesan tidak konsisten terhadap pilihan geraknya. PMII secara organisasi tetap berada di jalur independensi tidak memihak siapapun. Terlebih alumni-alumni PMII tersebar di dua pasangan calon baik pasangan Nasirudin-Probo ataupun Buyar-Djuwarni. Kami menghormati pilihan politik mereka dan mengharapkan alumni bisa menjadi contoh dalam mempraktekkan demokrasi yang substansial.



