Akhir kolonialisme di abad 20 an menjadi awal munculnya gerakan intelektual. Saat itu sejarah pergolakan di berbagai negara banyak diwarnai heroisme darah muda khususnya mahasiswa pemarah. Secara sepintas lalu kata pemarah menyiratkan makna sikap yang buruk dengan watak kasar, pemberang, tidak sabaran, gampang naik pitam, dan banyak sinonim yang setimpal buruknya. Tapi pengertian akan berbalik jika sifat pemarah itu justru muncul dari kegelisahan mendalam tentang ketimpangan, ketidakadilan, kelaliman yang menghimpit kemajuan negaranya. Atau juga sifat pemarah ini muncul dari pengekangan atas kebebasan menyurakan aspirasi dan kebebasan berpendapat di negaranya. Sikap berang semacam ini perlu dan malah menjadi semacam sikap patriotik tertentu jika murni dan ikhlas ditujukan untuk membebaskan rakyat banyak dari jeratan kebodohan dan kemalangan akibat penguasa yang menafikan rakyatnya sendiri.
Jargon ampuh mahasiswa sekaligus identitas yang membedakannya dari elemen lain adalah idealisme. Ia menjadi roh penggerak perjuangan untuk tatanan yang lebih adil dengan mengabaikan egoisme dan mempertaruhkan jiwa raga. Rekam jejak idealisme mahasiswa dalam memperjuangkan perubahan sistem sosial, ekonomi, politik dan sampai berdarah-darah tidak hanya terjadi di Indonesia. Mahasiswa di luar negeri pun dalam simpul-simpul pergerakan masing-masing bergerak mati-matian atas nama idealisme. Meskipun perjuangan demi rakyat dan merombak tatanan yang tidak adil wajib mendapat cobaan yang berat, intimidasi, penculikan, pemenjaraan, penyiksaan sampai pembunuhan.
Sejak dulu mahasiswa menjadi sisi paradoksal kekuasan diktator. Tilik saja bagaimana perlawanan mahasiswa Hongaria melawan kekuasaan boneka Unisoviet, akhirnya meledakkan revolusi yang dibayar dengan ratusan nyawa mahasiswa dan sipil sebagai harga perubahan. Demikian juga Mahasiswa Yunani yang menentang keuasaan raja yang semaunya menginjak-injak konstitusi. Mahasiswa Portugal melawan diktator Antonio Salazar. Mahasiswa Spanyol menghadapi rezim militeristik pimpinan Franco. Di Prancis mahasiswa kiri melawan pemerintahan De Gaulle meskipun patah karena briliannya permainan pemerintah mengerahkan pressure group. Mahasiswa Jerman menolak monopoli kekuasaan dan monopoli pemikiran yang didiktekan pemeritah. Demikian halnya di Negara-negara di Amerika latin yang banyak dikuasai diktator semena-mena seperti Stroesner di Paraguay, Somoza di Nikaragua, Duvalier di Haiti dan Fruentes di Guatemala yang menimbulkan ketidakpuasan di kalangan rakyat. Di Nikaragua misalnya anggaran pendidikan hanya 3 % sedang anggaran militer 40% akhirnya menimbulkan kebodohan dan kemiskinan, pengangguran bahkan kelaparan. Di ujung benua hitam, mahasiswa Aljazair menghadapi kesewenang-wenangan penjajahan Prancis. Mahasiswa Aljazair merapatkan diri dalam Front Pembebasan Nasional dan harus berhadapan dengan senapan, bayonet, yang merobek-robek tubuh mereka. Panjang jika diuraikan di sini apa yag terjadi di Mesir, Iran, Turki, Nepal, Korea, Filiphia hingga negeri kita sendiri Indonesia.
Rentetan perjuangan mahasiswa dalam memukul mundur hantu keditatoran merupakan manifestasi kesadaran bahwa hidup dalam tekanan bertolak belakang dengan rasa kemanusiaan dan keadilan dan pasti akan mendapat perlawanan. Ada adagium yang mengatakan bahwa jika seorang mahasiswa bias -tidak mau, tidak peduli- menyelesaikan masalah-masalah di sekitarnya maka ia adalah bagian dari masalah tersebut. Jika masyarakat menggeliat gelisah terhadap situasi kehidupan mereka sudah seharusnya mahasiswa peka dan bergegas melompati pagar kampus dan berdiri paling depan untuk membela. Sebagai spes patriare atau harapan bangsa mata hati mahasiswa tidak boleh terlena oleh pragmatisme dan hedonisme yang mengkerdilkan semangat pembelaan terhadap yang tertindas.



