<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>PMII KEBUMEN</title>
	<atom:link href="http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com</link>
	<description>Jurnal Gerakan</description>
	<lastBuildDate>Sun, 11 Jul 2010 15:56:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='gerakanpmiikebumen.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>PMII KEBUMEN</title>
		<link>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/osd.xml" title="PMII KEBUMEN" />
	<atom:link rel='hub' href='http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>KH. Idham Cholid Pemberi restu PMII Berpulang</title>
		<link>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/2010/07/11/kh-idham-cholid-pemberi-restu-pmii-berpulang/</link>
		<comments>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/2010/07/11/kh-idham-cholid-pemberi-restu-pmii-berpulang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jul 2010 15:53:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gerakanpmiikebumen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/?p=361</guid>
		<description><![CDATA[Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji&#8217;un Demikianlah lafad yang terucap dari sanubari terdalam mengiringi kepergian KH. Idham Cholid. Ia adalah salah seorang mantan Ketua Tanfidz NU, sekaligus pemberi restu didirikannya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Beliaulah  yang memberi dorongan dan bimbingan bagi Mahbub Djunaidi, Cholid Mawardi, Said Budairi dkk. untuk berjuang demi tegaknya Islam Indonesia di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakanpmiikebumen.wordpress.com&amp;blog=6266059&amp;post=361&amp;subd=gerakanpmiikebumen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji&#8217;un</p>
<p>Demikianlah lafad yang terucap dari sanubari terdalam mengiringi kepergian KH. Idham Cholid. Ia adalah salah seorang mantan Ketua Tanfidz NU, sekaligus pemberi restu didirikannya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Beliaulah  yang memberi dorongan dan bimbingan bagi Mahbub Djunaidi, Cholid Mawardi, Said Budairi dkk. untuk berjuang demi tegaknya Islam Indonesia di bawah panji mahasiswa. Lahirnya PMII di tahun 1960 adalah berkat jasa dan kebesaran hati beliau.</p>
<p>Allohummaghfirlahu, war<em><span style="text-decoration:underline;">h</span></em>amhu, wa &#8216;afihi wa&#8217;fu &#8216;ahu, wa akrim nuzulahu, wawassi&#8217; madhkholahu, waghsilhu bil ma i wassalji wal barod, wanaqqihi minal khotoya kama yumaqqos tsawabul abyadu minaddanas</p>
<p>Semoga Alloh mengampuni dosa-dosa beliau, mengasihi, memaafkan, memuliakan tempat kembalinya, melapangkan kuburnya, menyirami jiwanya dengan hawa kesejukan, membersihkan kekhilafannya seperti dibersihkannya kain putih dari bercak-bercak noda serta menumpulkan beliau bersama Rosululloh Muhammad saw, Amin ya robbal &#8216;alamin..Al fatihah&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/361/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/361/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/361/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/361/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/361/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/361/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/361/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/361/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakanpmiikebumen.wordpress.com&amp;blog=6266059&amp;post=361&amp;subd=gerakanpmiikebumen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/2010/07/11/kh-idham-cholid-pemberi-restu-pmii-berpulang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">gerakanpmiikebumen</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GURU INSPIRATIF,  KUNCI UTAMA MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN</title>
		<link>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/2010/07/11/guru-inspiratif-kunci-utama-meningkatkan-kualitas-pendidikan/</link>
		<comments>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/2010/07/11/guru-inspiratif-kunci-utama-meningkatkan-kualitas-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jul 2010 04:27:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gerakanpmiikebumen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diskusi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/?p=354</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Ngainun Naim) “Rahasia kekuatan guru terletak pada keyakinannya bahwa manusia dapat berubah, dan mereka juga. Mereka menghendaki kebangkitan, dan untuk itu, mereka membutuhkan guru untuk membangkitkan jiwa dari kebiasaan tidurnya” –Emerson Kualitas pendidikan di Indonesia memang masih jauh dari harapan. Berbagai persoalan terus saja membelit dan tidak mampu dipecahkan secara tuntas. Kondisi semacam inilah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakanpmiikebumen.wordpress.com&amp;blog=6266059&amp;post=354&amp;subd=gerakanpmiikebumen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh </em>Ngainun Naim)</p>
<p><strong><em>“</em></strong><em>Rahasia kekuatan guru terletak pada keyakinannya bahwa manusia dapat berubah, dan mereka juga. Mereka menghendaki kebangkitan, dan untuk itu, mereka membutuhkan guru untuk membangkitkan jiwa dari kebiasaan tidurnya” <strong>–</strong></em><strong>Emerson</strong></p>
<p>Kualitas pendidikan di Indonesia memang masih jauh dari harapan. Berbagai persoalan terus saja membelit dan tidak mampu dipecahkan secara tuntas. Kondisi semacam inilah yang menjadikan kualitas pendidikan Indonesia semakin tertinggal dibandingkan dengan kualitas pendidikan negara-negara maju.<span id="more-354"></span></p>
<p>Seharusnya menjadi kesadaran semua pihak, terutama para pemegang kebijakan—para wakil rakyat dan birokrasi pendidikan—bahwa dunia pendidikan Indonesia memerlukan pembenahan secara total. Hanya dengan cara semacam ini, dunia pendidikan Indonesia mampu mengejar ketertinggalannya. Dalam usaha untuk melakukan perbaikan, berbagai kebijakan juga telah dikeluarkan oleh pemerintah. Namun sayangnya, sampai saat ini belum terjadi perubahan secara signifikan. Bahkan tidak terlalu berlebihan jika dikatakan dunia pendidikan Indonesia tak ubahnya jalan di tempat.</p>
<p>Nampaknya, ada satu kunci penting dalam reformasi dunia pendidikan yang kurang memperoleh perhatian secara serius, yaitu guru. Dengan menitikberatkan pada eksistensi guru yang berkualitas bukan berarti aspek yang lainnya tidak penting. Namun penulis memiliki keyakinan bahwa guru yang berkualitas akan mampu menutupi celah kekurangan pada aspek lainnya.</p>
<p>Guru yang memiliki kualitas yang baik akan mampu menjadikan anak didiknya menjadi manusia yang unggul, meskipun sarana dan prasana di sekolah jauh dari memadai. Kita layak mengapresiasi apa yang ditulis oleh Andrea Hirata lewat novel larisnya, <em>Laskar Pelangi. </em>Sosok Bu Guru Muslimah yang dengan sepenuh hati mendidik telah memberi inspirasi dan menorehkan pengaruh mendalam terhadap para siswanya.</p>
<p>Sosok guru semacam inilah yang penting. Tentu hasil pendidikan akan jauh lebih memuaskan jika guru berkualitas diimbangi dengan tersedianya sarana prasarana yang mendukung bagi pencapaian hasil belajar secara maksimal. Tetapi sarana dan segala perangkat pendukung pembelajaran yang sangat lengkap tidak akan banyak artinya jika guru tidak mampu memaksimalkan dalam penggunaannya. Justru semuanya hanya akan menjadi barang mati yang teronggok di setiap sudut sekolah.</p>
<p>Memang, perhatian terhadap guru sekarang ini telah mulai menggembirakan, terutama dengan adanya program sertifikasi. Namun program sertifikasi belum menjawab terhadap tantangan dan kebutuhan reformasi secara total. Guru seharusnya lebih diberdayakan secara maksimal sehingga potensinya dapat tumbuh berkembang secara pesat. Hanya guru yang berdaya saja yang mampu membangun jiwa anak didiknya menjadi manusia yang lebih berkualitas.</p>
<p>Kita layak belajar banyak ke negeri Jepang. Ketika Negeri Matahari Terbit tersebut luluh lantak oleh bom atom pada tahun 1945, pertanyaan utama Kaisar Jepang adalah; masih berapa jumlah guru yang hidup? Pertanyaan ini kemudian ditindaklanjuti dengan memberikan perhatian secara serius terhadap eksistensi guru. Langkah Jepang ini terbukti sangat strategis. Hal ini dibuktikan dengan melesatnya kemajuan Jepang menyusul negeri-negeri Barat.</p>
<p>Langkah semacam ini layak untuk ditiru Indonesia. Sesuai dengan kebutuhan sekarang ini, guru yang sangat dibutuhkan adalah—meminjam istilah Rhenald Khasali—guru inspiratif. Guru inspiratif bukan guru yang hanya mengejar kurikulum, tetapi lebih dari itu, mengajak siswa-siswanya berpikir kreatif (<em>maximum thinking</em>). Ia mengajak siswa-siswanya melihat sesuatu dari luar (<em>thinking out of box</em>), mengubahnya di dalam, lalu membawa kembali keluar, ke masyarakat luas. Jika guru kurikulum melahirkan manajer-manajer andal, maka guru inspiratif akan melahirkan pemimpin-pembaru yang berani menghancurkan aneka kebiasaan lama.</p>
<p>Sebagaimana ditegaskan oleh Khasali (2007), karya-karya pembaruan, baik berupa temuan yang spektakuler di dunia keilmuan, produk komersial, maupun gerakan sosial, akan tampak secara nyata dalam kehidupan di masyarakat. Namun tak dapat dipungkiri, semua itu berawal dari sekolah. Tetapi tidak semua sekolah mampu melakukan hal yang luar biasa semacam itu. Hanya sekolah yang memiliki guru inspiratif saja yang mampu melakukannya. Perubahan menuju ke arah yang lebih baik dalam bentuk karya-karya pembaruan, lahir dari tangan dan pikiran guru-guru inspiratif yang gelisah dan melihat perlunya pengembangan kreativitas. Ia akan tergerak untuk memperbaiki hal-hal yang dipercaya oleh banyak orang tidak bisa diperbaiki dan menghubungkan hal-hal yang tidak terhubung (<em>connecting the unconnected</em>). Kegelisahan ini kemudian melahirkan kreativitas yang ditransformasikan dalam proses pembelajaran. Bagi guru inspiratif, segalanya mungkin untuk dilakukan perubahan. Kondisi yang penuh problematika sekalipun dapat diurai secara jernih dan ditemukan solusinya untuk berubah menjadi lebih baik.</p>
<p>Lewat tangan terampil guru inspiratif, pendidikan diharapkan mampu untuk melahirkan manusia-manusia siap pakai  dan relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja serta mampu membekali mereka dengan kecakapan hidup (<em>live skills</em>). Dalam kerangka untuk mewujudkan hal tersebut, proses pembelajaran harus mengutamakan pemecahan masalah (<em>problem solving</em>) secara reflektif melalui kerjasama secara demokratis. Anak didik harus dibekali dengan kesadaran terhadap pilar pendidikan yaitu belajar mengetahui (<em>learning to know</em>), belajar melakukan (<em>learning to do</em>), belajar hidup dalam kebersamaan (<em>learning to live together</em>), belajar menjadi diri sendiri (<em>learning to be</em>), belajar seumur hidup (<em>live long learning</em> ).</p>
<p>Penyelenggaraan pendidikan yang masih bersifat birokratik-sentralistik harus dirubah menuju desentralisasi pendidikan, yang dilakukan secara konsekuen dengan memenuhi kebutuhan yang diperlukan, baik perangkat lunak maupun perangkat keras (<em>soft ware-hard ware</em>). Pemerintah harus konsekuen terhadap akibat kebijakan tersebut, dengan memotivasi meningkatnya seluruh aspek yang ada dalam sistem pendidikan, seperti menyediakan dana yang memadai secara riil dan meningkatkan profesionalitas pendidik atau guru dan kepala sekolah.</p>
<p>Pendidikan seperti itulah yang dibutuhkan sekarang, karena model pendidikan tersebut mampu menempatkan manusia pada posisi sentral dalam setiap perubahan yang terjadi dan mampu pula mengarahkan serta mengendalikan perubahan-perubahan itu. Dengan konsepsi semacam ini, pendidikan dapat menolong manusia untuk meningkatkan sikap kritis terhadap dunia dan mampu mengubahnya.</p>
<p>Satu dimensi penting yang perlu untuk dijadikan pedoman bagi seorang guru inspiratif, yaitu pengembangan nalar kritis. Pengembangan nalar kritis sangat penting artinya untuk membentuk anak didik yang memiliki kepribadian yang kokoh. Secara teknis-operasional, Alwasilah membangun sebuah rumusan yang disebut “delapan dalil <em>critical pedagogy</em>” berikut contoh implikasinya dalam konteks pengajaran bahasa Inggris di Indonesia. Delapan dalil tersebut adalah; <em>pertama, </em>pendidikan memproduksi bukan hanya pengetahuan tapi juga politik. Mata-mata pelajaran, dengan kata lain, tidak hanya mewariskan ilmu pengetahuan, fakta atau dalil yang ditarik dari pengamatan alam fisik atau alam sosial, tapi juga harus menanamkan pada siswa kesadaran akan hak-hak politiknya sebagai warga negara. Artinya, guru bahasa Inggris, misalnya, berkewajiban bukan hanya mengajarkan <em>to have </em>dan <em>to be; is, am, are </em>sampai dengan komposisi alinea yang logis, berterima, dan komunikatif, tetapi juga berkewajiban berakrobat simsalabim kultural dan kurikuler untuk mentransformasi siswa menjadi masyarakat yang sadar politik (<em>political society</em>). Ini tidak berarti melatih siswa SMP dan SMA, juga mahasiswa, menjadi politisi seperti anggota aktif suatu partai politik. Yang terpenting adalah penanaman pada para siswa sikap politik yang demokratis. Untuk menjadi warga negara demokratis, mereka tidak harus menjadi politikus. Sadar akan hak dan kewajiban dalam keseharian di sekolah sesungguhnya merupakan pendidikan politik yang membumi.</p>
<p><em>Kedua, </em>etika seyogyanya dipahami sebagai sentralnya pendidikan. Guru mengajarkan bukan hanya pengetahuan dan ketrampilan bahasa tetapi juga mengajarkan apa yang benar dan tidak benar. Ada anggapan bahwa etika merupakan garapan guru agama, budi pekerti, atau ilmu sosial lainnya. Konsep dasar linguistik ihwal dikotomi deskriptif-perspektif, berterima-takberterima, dan gramatik-takgramatik sebenarnya berlaku juga dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan berbahasa berarti kepandaian menggunakan bahasa yang bukan saja benar secara gramatik, tetapi juga berterima secara sosial. Inilah gambaran keseimbangan dinamis dan fungsional antara teks dan konteks atau antara sisi mikro dan sisi makro dari uang logam yang bernama sosiolinguistik.</p>
<p><em>Ketiga, </em>pendidikan bertoleransi terhadap perbedaan-perbedaan pada siswa dan guru dalam aspek-aspek ras, etnis, bahasa, gender; dalil yang sungguh senapas Bhineka Tunggal Ika. Pendidikan bahasa dan pendidikan pada umumnya seyogianya mengakui dan memvalidasi eksistensi perbedaan-perbedaan itu, dan secara bertahap dan berkeadilan membuat batas-batas perbedaan itu semakin tipis dan mudah dipahami. Pendidikan secara objektif dan demokratis membentangkan persamaan atau benang merah kultural sebagai perekat kesatuan dan kebersamaan kultural.</p>
<p><em>Keempat, </em>kurikulum tidak boleh dimaknai sebagai teks suci yang mengharamkan munculnya interpretasi dan perbedaan-perbedaan pada pihak pelaksanaannya. Alih-alih kurikulum seyogianya diubah menjadi arena di mana ayat-ayat ilmu pengetahuan ditantang dan dipertanyakan secara lugas, bebas, akademik, demokratik, dan sinambung. Dalam keilmuan justru keraguan atas kebenaran yang menimbulkan ilmu baru dan inovasi. Sebaliknya, sikap <em>nrimo </em>sebagai cerminan rendahnya daya nalar dan kreativitas adalah biang keladi dari kejumudan iptek.</p>
<p><em>Kelima, </em>pendidikan seyogianya bukan hanya mengkritisi bentuk-bentuk ilmu pengetahuan yang ada, tetapi meronta-ronta mencari, merumuskan dan akhirnya menawarkan bentuk-bentuk baru dari ilmu pengetahuan. Artinya, pendidikan bukan sekedar mempertahankan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada, tetapi justru menghasilkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan baru.</p>
<p><em>Keenam, </em>pendidikan seyogianya mereformulasi apa yang selama ini diklaim sebagai kebenaran, demi mendapatkan versi dan interpretasi yang lebih parsial dan khusus dari ilmu pengetahuan, teknologi, kebenaran, dan alasan, serta kebernalaran. Salah satu upaya untuk menemukan versi dan interpretasi baru ini adalah dengan melakukan sinerji antara berbagai disiplin ilmu, semisal sinerji antara linguistik dengan sosiologi, antropologi, komunikasi, matematika, psikologi, politik, ekonomi, statistik, dan agama. Sudut pandang yang warna-warni ini akan menyemarakkan kebenaran saintifik (sementara) dan dengan sendirinya mereformulasikannya dalam wujud kebenaran alternatif untuk dikritisi.</p>
<p><em>Ketujuh, </em>pendidikan mesti mewadahi bukan hanya wacana untuk mengkritisi apa yang mapan, tetapi juga menawarkan visi demi masa depan mendatang yang lebih baik yang diperjuangkan tanpa mengenal lelah.</p>
<p>Dan <em>kedelapan, </em>para guru bahasa seyogianya melihat dirinya, seperti kata Henry A. Giroux, sebagai <em>transformative intellectual, </em>yakni intelektual yang memiliki komitmen perkasa untuk melakukan transformasi sosial demi perbaikan. Guru tidak boleh disepelekan dengan menganggapnya sebagai teknisi di kelas bahasa, yakni <em>abdi dalem </em>para penguasa, khususnya birokrat pendidikan yang senantiasa harus patuh terhadap ayat-ayat kurikulum sebagai teks suci (2008: 110-112).</p>
<p>Guru inspiratif juga harus senantiasa menanamkan kepada anak didiknya perlunya sikap mental positif dan kukuh dalam menghadapi kehidupan ini. Satu aspek yang nampaknya kurang memperoleh perhatian dalam dunia pendidikan di Indonesia adalah aspek mentalitas siswa. Sekolah selama ini lebih sibuk dengan aspek pengajaran, sehingga aspek yang lebih mendasar, yaitu mentalitas, jarang tersentuh.</p>
<p>Membangun mentalitas tidak harus dijadikan satu pelajaran formal tersendiri, tetapi dapat dimasukkan secara implisit dalam setiap pelajaran. Metode yang ditempuh bisa sangat beragam, tergantung konteksnya. Tetapi yang lebih penting, kesadaran membangun membangun mentalitas menjadi paradigma penting tertanam dalam diri semua pihak terkait dalam dunia pendidikan. Ia bisa dihadirkan di tengah-tengah mata pelajaran tertentu.</p>
<p>Ada cukup banyak bukti empiris bahwa mereka yang memiliki nilai unggul ketika sekolah, ternyata harus gagal dalam menjalani hidup. Sementara mereka yang biasa-biasa saja ketika sekolah, justru sukses dalam kompetisi hidup. Kesuksesan akan lebih memiliki potensi besar untuk diraih pada mereka yang memiliki kombinasi antara kecerdasan intelektual dan emosional. Persoalannya, kecerdasan untuk meraih nilai-nilai optimal dalam sekolah tidak dimiliki oleh semua siswa. Oleh karena itu, untuk memberi bekal penting dalam menjalani kehidupan, penanaman mentalitas yang kokoh menjadi sebuah kebutuhan yang sangat penting.</p>
<p>Pada dasarnya, setiap manusia memiliki mentalitas yang kuat untuk meraih keberhasilan. Perjalanan hidup kita sebagai manusia senantiasa melewati tahap kegagalan demi kegagalan sebelum meraih kesuksesan. Hidup manusia pada dasarnya adalah proses pertumbuhan yang penuh perjuangan terus berlanjut sampai pada tahapan-tahapan lain dalam jenjang kehidupan yang harus dilalui. Mungkin fenomena perjuangan untuk meraih kesuksesan ini jarang kita cermati dan refleksikan dalam kehidupan kita. Padahal, sebenarnya ada makna besar yang memiliki relevansi dan spirit penting yang dapat dijadikan landasan untuk membangun mentalitas. Seorang bayi mampu melakukan itu semua karena dia masih manusia suci. Dia belum mengenal konsep kegagalan (Anne Craigh, 2008).</p>
<p>Orang tua dan sekolah, dalam kenyataannya, tanpa sadar membangun ketakutan terhadap kegagalan. Padahal, kegagalan adalah pintu penting untuk meraih kesuksesan. Kesuksesan dalam bidang apapun tidak akan muncul begitu saja. Untuk keraih kesuksesan, dibutuhkan perjuangan secara terus menerus. Sebagaimana seorang bayi yang belajar berjalan, demikian juga dengan hakikat kesuksesan.</p>
<p>Ada banyak perspektif yang dapat digunakan untuk membangun mentalitas ini. Salah satu yang dapat digunakan adalah tawaran dari Paul G. Stoltz. Dalam buku yang ditulisnya, Stoltz (2007: 17-37), menyebutkan bahwa hidup manusia dapat diibaratkan dengan usaha untuk mendaki sebuah gunung. Jalan yang harus ditempuh manusia untuk meniti hidup, dari sudut pandang Stoltz, akan secara otomatis membagi manusia ke dalam beberapa kriteria. <em>Pertama, </em>Mereka yang Berhenti (<em>Quitters</em>). Mereka yang masuk dalam kategori ini menjalani kehidupan yang tidak terlalu menyenangkan. Mereka meninggalkan impian-impiannya dan memilih jalan yang mereka anggap lebih datar dan lebih mudah. Ironisnya, seiring dengan berlalunya waktu, <em>Quitters </em>mengalami penderitaan yang jauh lebih pedih daripada yang mereka elakkan dengan memilih untuk tidak mendaki.</p>
<p>Perspektif yang ditawarkan Stoltz ini memiliki relevansi jika digunakan sebagai kerangka untuk melihat mentalitas siswa di sekolah. Para siswa yang termasuk kategori <em>Quitters </em>nampaknya menjadi bagian yang cukup besar dalam dunia pendidikan. Mereka umumnya tidak memiliki visi dan keyakinan akan masa depannya. Menuntut ilmu akan dijalani secara minimalis. Tidak ada usaha yang serius, tidak ada visi dan harapan tentang kehidupan mendatang yang cerah, dan menjalani sekolah secara ogah-ogahan.</p>
<p>Kelompok <em>kedua </em>yang dianalisis Stoltz dikategorikan sebagai Mereka yang Berkemah (<em>Campers</em>). Berbeda dengan kelompok <em>Quitters, </em>kelompok <em>Campers </em>telah melakukan perjalanan Mendaki, namun mereka pergi tidak seberapa jauh. Karena bosan, mereka mengakhiri Pendakiannya dan mencari tempat datar yang rata dan nyaman sebagai tempat bersembunyi dari situasi yang tidak bersahabat. Mereka memilih untuk menghabiskan sisa-sisa hidup mereka dengan duduk di situ.</p>
<p>Walaupun lebih baik dari <em>Quitters, Campers </em>sebenarnya memiliki kelemahan, terutama pada mentalitasnya untuk berhenti Mendaki. Dengan ulasan menarik, Stoltz mengilustrasikan <em>Campers </em>sebagai orang yang sambil memasang tenda, memfokuskan energinya pada kegiatan mengisi tenda dengan barang-barang yang sedapat mungkin membuatnya nyaman. Ini berarti <em>Campers </em>melepaskan kesempatan untuk maju, yang sebenarnya dapat dicapai jika energi dan sumber dayanya diarahkan dengan semestinya. Dengan kritis Stoltz menyatakan bahwa <em>Campers </em>menciptakan semacam “penjara yang nyaman”—sebuah tempat yang terlalu enak untuk ditinggalkan.</p>
<p>Kategori <em>ketiga </em>adalah <em>Climbers. </em>Kelompok ketiga ini membaktikan dirinya seumur hidup dalam Pendakian. Tanpa menghiraukan latar belakang, keuntungan atau kerugian, nasib buruk atau nasib baik, dia terus Mendaki. <em>Climbers </em>adalah pemikir yang selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan, dan tidak pernah membiarkan umur, jenis kelamin, ras, atau hambatan lainnya menghalangi Pendakiannya. Mereka melakukan semua ini dengan memahami tujuannya dan bisa merasakan gairahnya. Karena tahu bahwa mencapai puncak itu tidak mudah, maka <em>Climbers </em>tidak pernah melupakan “kekuatan” dari perjalanan yang pernah ditempuhnya.</p>
<p>Namun harus dipahami bahwa manusia tidak selamanya berada dalam kestabilan emosi. Suatu ketika ada kebosanan, kejenuhan, kemalasan, dan keraguan. Hal yang sama juga dialami oleh <em>Climbers. </em>Namun berbeda dengan <em>Quitters </em>dan <em>Campers, </em>komitmen untuk maju, untuk melangkah ke depan, dan mencapai tempat yang lebih tinggi lagi dengan mengatasi tantangan-tantangan dan perasaan takut yang pasti muncul, menjadikan <em>Climbers </em>segera bangkit kembali dan mengumpulkan energi baru untuk melakukan Pendakian selanjutnya. Mereka tidak terjebak dalam kemunduran secara terus menerus. Tanpa menggantungkan diri kepada orang lain, mereka mampu untuk memotivasi dirinya sendiri, memiliki semangat tinggi, dan berjuang untuk mendapatkan yang terbaik dalam hidup. Oleh karena itu, mereka senantiasa belajar tiada henti untuk terus melakukan perbaikan, mencari cara-cara baru untuk bertumbuh dan berkontribusi.</p>
<p>Dalam konteks pendidikan, mentalitas <em>Climbers</em> termanifestasi dalam optimalisasi segenap potensi. Jika para siswa telah memiliki mentalitas <em>Climbers, </em>mereka akan mampu untuk memperbesar kemampuannya dalam memberikan kontribusi dan memperbaiki diri seumur hidup. Mentalitas semacam inilah yang seharusnya dipupuk, ditumbuhkembangkan, dan diberdayakan secara maksimal.</p>
<p>Hanya guru inspiratif yang mampu menggali potensi-potensi penting di dalam diri masing-masing anak didiknya. Jika saja sebagian besar guru memiliki kategori semacam ini, maka sistem pendidikan Indonesia akan berubah menjadi lebih baik. Jadi, untuk membangun sistem pendidikan yang lebih kokoh, langkah yang mendasar adalah membangun guru inspiratif sebanyak-banyaknya.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>*</p>
<p>Disampaikan Sahabat Ngainun Naim untuk seminar PMII Cabang Kebumen, Rabo, 30 Juni 2010.</p>
<p>Ia adalah ¨ Penulis beberapa buku, di antaranya <em>Menjadi Guru Inspiratif, Memberdayakan dan Mengubah Jalan Hidup Siswa </em>(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009). Sehari-hari menjadi dosen STAIN Tulungagung.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Daftar Rujukan</strong></p>
<p>A. Chaedar Alwasilah, <em>Filsafat Bahasa dan Pendidikan, </em>Bandung: Rosdakarya, 2008.</p>
<p>Andrea Hirata, <em>Laskar Pelangi, </em>Yogyakarta: Bentang, 2008.</p>
<p>Anne Craigh, <em>Cerdas Tanpa Belajar, </em>Jakarta: Jabal, 2008.</p>
<p>Paul G. Stoltz, <em>Adversity Quotient, Mengubah Hambatan Menjadi Peluang, </em>terj. T. Hermaya, Cet. 7, Jakarta : Grasindo, 2007.</p>
<p>Rhenald Khasali, “Guru Kurikulum dan Guru Inspiratif”, <em>Kompas, </em>29 Agustus 2007.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/354/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/354/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/354/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/354/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/354/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/354/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/354/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/354/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakanpmiikebumen.wordpress.com&amp;blog=6266059&amp;post=354&amp;subd=gerakanpmiikebumen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/2010/07/11/guru-inspiratif-kunci-utama-meningkatkan-kualitas-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">gerakanpmiikebumen</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendidikan untuk Keberdayaan “Desa”</title>
		<link>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/2010/07/11/pendidikan-untuk-keberdayaan-%e2%80%9cdesa%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/2010/07/11/pendidikan-untuk-keberdayaan-%e2%80%9cdesa%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jul 2010 04:20:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gerakanpmiikebumen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gerakan Sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/?p=350</guid>
		<description><![CDATA[(Penguatan resistensi masyarakat desa dalam arus Kapitalisme Global) Oleh: Bahruddin Setiap saat kita selalu mendapatkan berbagai informasi tentang pendidikan. Informasi yang menggembirakan selalu seputar prestasi “belajar”. Kita berbangga ketika bangsa kita yang diwakili oleh Oge si Mutiara Hitam Septinus George Saa, seorang siswa dari Papua yang yang baru saja memenangkan event The First Step to [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakanpmiikebumen.wordpress.com&amp;blog=6266059&amp;post=350&amp;subd=gerakanpmiikebumen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(Penguatan resistensi masyarakat desa dalam arus Kapitalisme Global)</p>
<p>Oleh: Bahruddin</p>
<p>Setiap saat kita selalu mendapatkan berbagai informasi tentang pendidikan. Informasi yang menggembirakan selalu seputar prestasi “belajar”. Kita berbangga ketika bangsa kita yang diwakili oleh Oge si Mutiara Hitam Septinus George Saa, seorang siswa dari Papua yang yang baru saja memenangkan event<em> The First Step to Nobel Prize in Physics </em>di Warsawa, Polandia. Tanpa berfikir sebaliknya bagaimana kondisi sekian ratus juta <span id="more-350"></span>bangsa kita minus 1 orang tersebut. Sebut saja laporan PBB dalam <em>Human Development Report 2004</em>, kualitas pendidikan Indonesia (Education Index = 0,80) berada dibawah Vietnam (0,82) atau terendah di antara negara-negara  ASEAN lainnya. Terlebih dari  penelitiannya Unesco-OECD dalam Programme of International Student Assessment (PISA), Kecakapan membaca anak-anak kita (usia 15 tahun) sangatlah rendah (peringkat 39 dari 41 negara yang diteliti). Ini sungguh sangat memprihatinkan mengingat di era digital ini tuntutan kecakapan membaca sangatlah dibutuhkan untuk secara mandiri menyerap pengetahuan melalui media yang ada khususnya digital yang sudah tersedia tanpa batas ini.</p>
<p>Sedangkan informasi yang menyedihkan selalu seputar anjlognya prestasi anak didik disamping rendahnya atau tidak memadainya sarana belajar (sekolah). Kita selalu sedih manakala melihat tayangan tv tentang gedung-gedung sekolah yang roboh akibat kualitas bangunan yang buruk atau akibat bencana alam. Anak-anak pada belajar berhimpit-himpitan di bawah tenda sehingga tidak bisa berkonsentrasi penuh mendengarkan penjelasan dari seorang guru. Tanpa pernah berfikir kenapa belajar harus tergantung dengan gedung yang pengadaannya dibiayai dari hutang Luar Negeri.</p>
<p>Sayang sekali, informasi seputar pendidikan yang berkontribusi langsung pada perbaikan kehidupan, pada perwujudan masyarakat yang berdaya, pendidikan yang secara mandiri diselenggarakan oleh komunitas setempat jarang sekali kita dapatkan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Paradigma konvensional</strong></p>
<p>Pada umumnya cara pandang terhadap pendidikan cenderung bias skulastik. Pendidikan telah terlembagakan sedemikian rupa menjadi sekolahan. Sekolah itu sendiri telah terjebak menjadi perusahaan bidang jasa. Para keluarga dengan anaknya yang datang ke sekolah tersebut tidak lebih hanyalah sebagai calon konsumen. Pola hubungan antara sekolah dan siswa mengikuti pola pasar yang kapitalistik. Ada penjual jasa dan ada pembeli jasa.  Parameter keberhasilan sekolahan dilihat dari seberapa besar minat masyarakat yang menyekolahkan anaknya ke sekolah tersebut terlebih masyarakat dari golongan ekonomi kuat. Upaya sekolahan memobilisir minat masyarakat dilakukan dengan strategi pemasaran yang jitu. Biasanya dengan menunjukkan bahwa di sekolahan itu tersedia guru-guru yang handal, sarana pendidikan yang memadai serta prestasi-prestasi yang sempat dicapai.</p>
<p>Sementara dari sisi masyarakat (pembeli) akan melihat seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan, seberapa mungkin (setelah lulus nanti) dapat melanjutkan ke lembaga pendidikan yang paling faforit, dan akhirnya seberapa besar peluang lulusannya dapat bekerja di perusahaan (<strong>mendapat majikan</strong>) yang diidam-idamkan. Bahkan tidak jarang kita jumpai dapat bekerja di tempat yang “basah”, yang “sabetannya” banyak dan seterusnya. Yang sering dinilai lebih ideal  lagi adalah dapat menciptakan lapangan kerja (<strong>menjadi majikan</strong>). Persoalan majikan itu majikan yang eksploitatif atau tidak, itu tidak penting.</p>
<h1>Paradigma Qaryah Thayyibah</h1>
<h1>Arti Qaryah Thayyibah</h1>
<h1>Secara harfiah Qaryah Thayyibah diartikan dengan desa yang indah, baik, berdaya dan seterusnya. Yang dimaksud desa disini adalah kesatuan masyarakat dalam suatu wilayah yang lebih memungkinkan interaksi fisik antara satu dengan yang lainnya dalam waktu singkat. <em>Qaryah</em> bagian dari <em>Baldah. </em> Di Indonesia <em>Baldah</em> dapat diartikan dengan Kecamatan, Kota, atau Kabupaten. Sedangkan Qaryah dapat diartikan dengan dusun, desa, kampung, atau kelurahan. <em>Qaryah Thayyibah</em> dirasakan lebih dekat dengan semangat dasar <em>civil society</em> dibanding dengan masyarakat madani. Madani lebih bias kota (urban).</h1>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tujuan:</strong></p>
<p>Tujuan pendidikan model Qaryah Thayyibah adalah Terwujudnya <strong>desa yang berdaya. </strong>Tidak hanya pada masyarakatnya tetapi juga pada<strong> </strong>sumberdaya alamnya. Pendidikan dalam prespektif ini tidak hanya ditujukan untuk memintarkan individu-individu dalam masyarakat, membangun sistem sosial yang demokratis, mengembangkan sistem ekonomi yang berkeadilan, namun juga berorientasi pada kelestarian dan penguatan daya dukung sumberdaya alam.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Strategi:</strong></p>
<p>Yang membedakan manusia dengan hewan adalah kesadaran yang dapat berkembang melalui proses belajar. Akan hilang ciri-ciri kemanusiaannya kalau tidak belajar. Belajar tidak perlu tergantung dengan adanya apa dan siapa. tidak adanya guru, gedung sekolah, bangku-kursi, seragam, sepatu, buku, komputer adalah hal yang wajar dan biasa. Dimanapun juga akan sangat mungkin terjadi. Yang justeru tidak masuk akal adalah ketika  tidak tersedianya itu semua, manusia berhenti belajar. Kita tidak perlu risau ketika terjadi putus sekolah. Adalah bencana kemanusiaan ketika terjadi putus belajar termasuk bagi mereka yang “sekolahan”. Sementara yang dominan terjadi di sekolah justeru bukan proses “belajar-mengajar” tetapi lebih pada “mengajar-diajar”. Untuk belajar, dimulai saja dari sumberdaya yang ada dan tidak tidak perlu memulai dari mengada-ada.</p>
<p>Ketika dibutuhkannya media pendukung proses belajar, pikirkan sambil berjalan untuk memenuhinya dengan mengelola sumberdaya yang tersedia. Jangan menunggu tersedianya perangkat pendukung baru berikutnya belajar. Suatu contoh di komunitas belajar Qaryah Thayyibah yang penulis kelola. Setelah dianalisis ternyata yang justeru sangat dibutuhkan adalah tersedianya komputer bagi siswa. Maka, sambil belajar diupayakanlah bersama dengan mengelola uang saku anak per hari Rp 2.000. Kalau harga komputer itu 1 juta rupiah per unitnya, tentunya dengan mengumpulkan uang selama 500 hari komputer itu akan dapat disediakan. Ternyata baru berjalan 200 hari pengelola sudah dapat mencarikan talangan untuk pengadaan komputer bahkan seharga Rp 1.400.000,- per unitnya.</p>
<p>Dengan demikian pendidikan komunitas ini tidak berurusan dengan murah atau mahal. Pada kasus tidak ada uang sama sekali, tidak ada kepedulian dari negara dan dari manapun juga, belajar tidak bisa berhenti.</p>
<p>Berikutnya belajar musti dimulai dari semangat kebersamaan. Kemandirian komunitas adalah saling ketergantungan antara satu dengan yang lain.</p>
<h1>Metode pembelajaran</h1>
<p>Konsep dasar pendidikan komunitas meniadakan guru mengajar. Konsep KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) ditiadakan. Yang ada adalah belajar bersama. Persyaratan utama bagi guru adalah adanya kemauan belajar dan memiliki pengalaman yang lebih dalam hal strategi belajar dan bukan metode mengajar.  Posisi guru sebagai teman belajar bagi siswa. Dalam satu kelas cukup dibutuhkan satu orang guru yang akan menemani siswa dalam seluruh “Mata Pelajaran”. Seorang guru tidak perlu menguasai seluruh materi “pelajaran”. Ketika ada beberapa guru yang memiliki beberapa “kelebihan” dalam hal penguasaan materi tetap tidak melakukan “mengajar” tetapi lebih memposisikan diri sebagai <em>resource person, </em>sebagai <strong>salah satu</strong> obyek<em> </em>yang sewaktu-waktu siap di”eksploitasi” oleh para murid. <em>Resource </em>yang lain bisa berada di kebun, di sawah, di lingkungan murid lainnya, di buku, di <em>compact disc</em>, juga penjelajahan di internet.</p>
<p>Bagi masyarakat khususnya orang tua/wali murid tidak perlu mengejar-ngejar anak untuk “belajar”. Justeru sebaliknya, yakni minta bantuan pada anak untuk menjawab persoalan yang dihadapi sehari-hari. Misalnya saja orang tua murid yang kebetulan sehari-harinya beternak kambing, minta saja pada anak agar dibahas bersama teman-temannya bagaimana mencari bibit kambing yang baik, bagaimana teknologi mengolah kulit kambing, bagaimana pemasarannya dan seterusnya dan seterusnya. Demikian juga bagi guru, justeru selalu mengajak murid untuk terus melakukan assesmen kebutuhan yang dihadapi oleh keluarga si murid. Kebutuhan tidak hanya melulu pada persoalan ekonomi atau teknologi tapi lebih luas dari itu termasuk kebutuhan berkeluarga dan berbangsa sehingga pemahaman murid berikut masyarakat atas nilai-nilai keadilan, Hak Asasi Manusia, demokrasi, kesetaraan gender, kelestarian lingkungan, sampai dengan kewarganegaraan dapat tertanamkan.</p>
<h1>Rekomendasi untuk penguasa</h1>
<h1>-          Fasilitasi jaringan ICT</h1>
<p><strong>Tidak masuk akal jika 5500 tahun yang lalu tepatnya di Mesopotamia tempat ditemukannya teknologi roda oleh bangsa Someria, kalau penguasa setempat masih memfasilitasi media yang bertentangan dengan perkembangan teknologi. Demikian juga ketika setelah ditemukannya kertas oleh Ts’ai Lun pada abad 2. Tidak lucu kalau kertas sudah bisa menggantikan kulit kambing terutama setelah ditemukannya mesin cetak oleh Gutenberg sebgai media tulis menulis, penguasa setempat masih saja tidak mau memfasilitasi gerakan pencerdasan warganya dengan media yang sesuai di eranya.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Demikian juga dengan era sekarang ini. Era digitalnya para <em>Millennials </em>(generasi milenium) yang hadir di dunia ini pada awal 1980-an. Mereka adalah pemilik sah</strong><strong> era </strong><strong>ini, penghuni era ini. Kita yang hadir sebelum itu sudah sepantasnya harus menyesuaikan diri, karena kitalah sebagai pendatang. </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sangat tidak masuk akal kalau masih saja ada guru yang mendektekan materi pelajarannya pada anak didik. Sama saja prilaku itu menghambat bahkan merampas hak dan kesempatan berkembangnya anak-anak generasi <em>Millennials</em>. Juga pemborosan yang semestinya tidak perlu terjadi. Banyak daerah (Kabupaten / Kota) yang membelanjakan Puluhan miliar rupiah APBDnya untuk pengadaan buku terbitan Balai Pustaka yang sudah <em>out of date</em> dan tidak digunakan lagi. Sebut saja angka 10 Milyar sudah dapat diwujudkan <em>Compact Disc </em>sebanyak 10 juta keping atau setara 10 juta almari buku.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Akankah para penguasa kita tidak mau menyadari terus bahwa tidak ada bedanya antara mereka dengan kaum Jahiliyah yang berkuasa?</strong></p>
<p>Ada satu contoh kongkrit yang penulis alami sendiri. Di Dusun Nglelo Desa Batur Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang, SPPQT bersama Indo.net Salatiga telah mendampingi masyarakat setempat menyelenggarakan pendidikan alternatif. Sarana yang disediakan pertama kali adalah jaringan internet. Ternyata hasilnya teramat fantastis. Betapa tidak anak-anak yang tidak mungkin bisa sekolah karena harus naik turun gunung berkilo-kilo meter menuju sekolah terdekat itu, dengan difasilitasinya tempat belajar di rumah mereka sendiri, ternyata hasilnya mampu jauh mengungguli SMP induknya.</p>
<p>Jaringan internet jauh lebih efektif kontribusinya dalam mencerdaskan anak bangsa dibanding membangun gedung SD INPRES dengan biaya tinggi yang kehadirannya tetap memposisikan sebagai barang asing bagi masyarakat di desa. Masyarakat hanya menjadi konsumen. Belajar saja dari Thailand yang tengah berusha sekuat tenaga fasilitasi jaringan internet ke desa-desa. Pada penilaian terakhir tentang kualitas pendidikan pada 14 negara-negara berkembang di Asia Pasifik yang dilakukan oleh UNESCO – ASPBAE, Thailand menduduki peringkat pertama. Sementara Indonesia berada di peringkat 10 dan khusus input quality termasuk didalamnya kualitas guru terlatih Indonesia berada di peringkat 14 dari 14 negara berkembang di Asia Pasifik !</p>
<h1>-          Fasilitasi kesejahteraan guru</h1>
<p>Kendati guru pada konsep Qaryah Thayyibah ini adalah sekaligus murid, dia tetaplah seseorang yang harus meluangkan waktu khusus dan meninggalkan kewajiban terhadap keluarganya. Namun, guru tetap berbeda dengan konsep pekerja pada sebuah perusahaan jasa. Guru tetap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari gerakan pencerdasan anak bangsa. Konsep Qaryah Thayyibah dalam hal kesejahteraan guru menggunakan konsep “bengkok”. Konsep bengkok telah dikenal luas masyarakat Jawa. Seorang Lurah tidak mendapatkan bayaran bulanan (gaji) namun mendapatkan bengkok. Yakni sebidang tanah yang harus diproduktifkan. Untuk bisa memproduktifkan tanah bengkok harus melibatkan petani penggarap yang keuntungannya dibagi antara Penerima hak bengkok dan petani penggarap. Artinya seorang lurah ketika berfikir bagaimana meningkatkan kesejahteraan dirinya secara otomatis harus juga berfikir bagaimana meningkatkan kesejahteraan para petani di desanya dengan mengembangkan manajemen produksi. Disamping sarana pendukung utama produktifitas tanah bengkok seperti sistem irigasi, konservasi air, kesuburan tanah yang harus diupayakan pengembangannya, manajemen pasca produksi seperti pengolahan hasil pertanian dan perdagangan yang menguntungkan masyarakat juga harus difikirkan oleh seorang Lurah.</p>
<p>Seorang guru pada sekolah komunitas sudah semestinya demikian juga. Dia tidak perlu dibayar bulanan sebagaimana berlaku bagi para pekerja di perusahaan-perusahaan, namun diberikan bengkok yang tidak harus berupa tanah. Bengkok bisa saja berupa kambing, atau sumberdaya produksi lain. Misalkan saja bengkok berupa kambing. Setarakan saja 5 tahun gaji seorang guru yang 1 juta per bulan, maka bengkok bagi seorang guru cukup 60 juta. Angka ini taruh diwujudkan kambing seharga 500 ribu per ekornya maka akan ada 120 ekor kambing. Kambing ini nanti selanjutnya digaduh oleh para petani yang menjadi wali murid dengan bagi hasil misalnya 40 untuk guru : 60 untuk petani (lebih menguntungkan petani dibanding hitungan umumnya yang 50 : 50). Karena umumnya dalam waktu satu tahun seekor kambing akan beranak 2 kali dan sering beranak kembar. Artinya dalam waktu satu tahun 120 ekor kambing akan beranak 240 ekor (dengan pengandaian hanya beranak 1). Dari 240 ekor kambing itu taruh diberikan ke petani yang 140 ekor maka sang guru akan mendapatkan 100 ekor. Dikalikan 500 ribu maka seorang guru akan mendapat keuntungan 50 juta per tahun atau 4 juta per bulan (4 kali lipat dibanding gaji 1 juta per bulan).</p>
<p>Dari ilustrasi diatas, beban pemerintah akan diperingan karena hanya mengeluarkan untuk modal kerja yang setara  gaji lima tahun. Bandingkan dengan sistem upah bulanan yang sangat membebani negara sehingga utang negara akan menumpuk. Bagi guru sendiri akan sangat menikmati karena ternyata terimanya bahkan mencapai 4 kali lipat. Bagi Petani penggaduh juga dapat menikmati karena mendapatkan kesempatan berproduksi yang memang sudah biasa digeluti (artinya kemungkinan berhasil lebih besar karena bukan usaha rintisan bahkan <em>bankable</em>). Bagi desa tentunya konsep semacam inilah yang akan menggerakkan ekonomi produktif desa. Dibarengi dengan kegiatan pembelajaran yang lebih membuka peluang berkembangnya daya kreasi dan inovasi masyarakat, pasti masyarakat tidak akan berhenti pada budidaya saja. Mereka pasti akan berfikir yang lebih dari itu. Mereka akan berfikir bagaimana kalau dikembangkan usaha pengolahan daging kambing, pengolahan kulit kambing, pengelolaan pakan ternak, pengawetan rumput untuk persediaan pada musim kemarau dan seterusnya dan seterusnya. Bengkok bisa saja berupa mesin cetak, CD duplikator, kamera video shoting dan lain lain.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>*<em> Makalah ini disampaikan pada Seminar Guru dan Pendidikan Pembebasan di Aula Setda Kebumen 30 Juni 2010, oleh Ahmad Bahruddin Pengelola Komunitas Belajar  Qaryah Thayyibah Kalibening Salatiga</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/350/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakanpmiikebumen.wordpress.com&amp;blog=6266059&amp;post=350&amp;subd=gerakanpmiikebumen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/2010/07/11/pendidikan-untuk-keberdayaan-%e2%80%9cdesa%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">gerakanpmiikebumen</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejumput Oleh-oleh dari Seminar Pendidikan</title>
		<link>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/2010/07/11/sejumput-oleh-oleh-dari-seminar-pendidikan/</link>
		<comments>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/2010/07/11/sejumput-oleh-oleh-dari-seminar-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jul 2010 04:09:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gerakanpmiikebumen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/?p=348</guid>
		<description><![CDATA[SEMINAR GURU DAN PENDIDIKAN PEMBEBASAN Moderator : Samsul Ma’arif Narasumber 1 : Ngainun Na’im Kunci pendidikan utama terletak di tangan guru. Type guru bisa dibagi menjadi 3 : - guru yang meninggalkan kesan baik pada siswa - guru yang menimbulkan rasa tidak suka pada siswa - guru yang biasa-biasa saja Guru inspiratif adalah guru yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakanpmiikebumen.wordpress.com&amp;blog=6266059&amp;post=348&amp;subd=gerakanpmiikebumen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SEMINAR GURU DAN PENDIDIKAN PEMBEBASAN</p>
<p>Moderator 	: Samsul Ma’arif<br />
Narasumber 1	: Ngainun Na’im<br />
Kunci pendidikan utama terletak di tangan guru. Type guru bisa dibagi menjadi 3 :<br />
-	guru yang  meninggalkan kesan baik pada siswa<br />
-	guru yang menimbulkan rasa tidak suka pada siswa<br />
-	guru yang biasa-biasa saja<br />
Guru inspiratif adalah guru yang tidak mengajar hanya sesuai kurikulum, namun lebih pada kemampuannya untuk mengolah pmbelajaran menjadi kreatif dan inovatif<br />
Ciri-ciri guru ispiratif ada 10 yakni :<span id="more-348"></span><br />
-	memiliki pengetahuan luas<br />
-	dia terus belajar<br />
-	kompeten di bidangnya<br />
-	ketika akan menjalankan tugas dia selalu mengadakan evaluasi<br />
-	spiritualis<br />
-	memiliki hubungan batin yang kuat dengan siswanya<br />
-	Guru inspiratif itu jika  megajar secara totalitas<br />
-	mampu menjadi motifator<br />
-	Harus disiplin<br />
-	Memiliki jiwa tantangan<br />
-	Proses pembelajarannya kreatif<br />
-	Siswanya mau berubah<br />
Catatan bahwa potensi siswa bisa berkembang jika ada faktor pemberdayaan</p>
<p>Narasumber 2 	: Ahmad Bahrudin<br />
Indonesia peringkat 10 dari 14 negara untuk indeks prestasi pendidikannya<br />
Ada fenomena bahwa kecerdasan siswa dapat lebih tumbuh dengan proses diskusi dalam pembelajaran. Pembelajaran dilaksanakan berbasis pada komunikasi sehingga nantinya akan terjadi proses analisis terhadap pembelajaran yang diterima</p>
<p>Narasumber 3 	: M. Priyono M.M.Pd<br />
Pendidikan Indonesia mengejar realitas dunia ( notulen terpesona hal lain lupa ngetik)</p>
<p>Penanya 1	: Mukholis<br />
Seberapa persenkah guru Indonesia yang belum inspiratif?<br />
Penanya 2	: Abdul<br />
Bagaimana penjabaran sifat ikhlas pada guru inspiratif?<br />
Penanya 3	: Khotimah<br />
Bagimana trik-trik menjadi guru inspiratif?<br />
Untuk ikhlas kayaknya susah, gimana mau meningkatkan pmbelajarn wong gajinya aja tidak setimpal<br />
Apakah nanti akan menjadi lebih bagus setelah RPP diganti RFP<br />
Sejauh mana capaian-capaian pendidikan non formal?<br />
Bagaimana awal ide mendirikan Qoryah Thoyibah?<br />
Penanya 4 	: Nur Asiyah<br />
Banyak guru yang tidak sesuai dengan bidangnya, banyak guru juga yang diambil oleh kepala sekolah karena ada hubungan keluarga, Bagaimana pemerintah menyikapinya?</p>
<p>Jawaban pemateri</p>
<p>M. Priyono, MM. Pd<br />
Guru tidak sesuai bidangnya memang harus mulai dihilangkan<br />
Sertifikasi tidak ada korelasi positif dengan mutu pendidikan<br />
Ngainun Naim<br />
Perubahan bisa terjadi asal kita ada sikap optimis (ada keyakinan)<br />
Persoalannya bukan pada berapa banyak jumlah guru inspiratif, tapi bagaimana kita pintar-pintarnya menginspirasi siswa. Siapapun orangnya bisa menjadi guru inspiratif, bukan hanya mereka yang sekolah tinggi</p>
<p>Ahmad Bahrudin<br />
Tentang guru ikhlas, memang asal dari kita punya semangat menggugah kreasi anak dengan ikhlas, inilah yang akan selamat.<br />
Untuk UN mestinya menggunakan instrument yang mengarah kepada analisis bukan hafalan. UN seharusnya bertujuan untuk mengukur kemampuan diri siswa, apapun hasilnya harusnya kita terima sebagai bahan evaluasi selanjutya.</p>
<p>Penanya 5 	: Eko Wahyudi (Usulan)<br />
Bagaimana agar PMII bersama Diknas dan instansi terkait di Kebumen harus segera melakukan langkah implementatif di Kebumen terkait pendidikan seperti membuat sekolah gratis<br />
Penanya 6	: Nunung Awaliyah<br />
Bagaimana agar pendekatan di sekolah Alternatif dipraktekkan di sekolah formal<br />
Mengapa KTSP realisasinya jauh dari tujuan idealnya?<br />
Penanya 7	: Rimba Palaka<br />
Salah satu cara meningkatkan kecerdasan adalah membudayakan reading dan writing (P. Ngainun). Budaya membaca dan menulis di Indonesia khususnya di sekolah formal sangat minim. Guru pun kurang memotivasi siswa untuk membudayakannya.<br />
Dalam tulisan sejarah Ulama Ibnu Kholdun, Imam Syafii ternyata tanpa sekolah formal namun tulisan-tulisannya menjadi karya monumental dan inspiratif.<br />
Bagaimana untuk menumbuh kembangkan cinta baca tulis. Sehingga muncul kekayaan imajinasi ?<br />
Penanya 7	: Khotimul Hasan<br />
Seperti apa konsep pendidikan di  QT dari sisi akhlak ?<br />
Apa maksud bahwa guru harus mempunyai pengetahuan, maksudnya dari sisi metodologi atau bagaimana?<br />
Bagaimana definisi ikhlas menyangkut praktek birokrasi khususnya konsekuensi logis terhadap kesejahteraan guru?</p>
<p>Jawaban<br />
Ahmad Bahrudin<br />
Memulai perubahan itu diawali dari diri sendiri. Kadang kita terjebak pada formalisme, tak terkecuali dalam praktek beragama. Banyak keluhan terhadap gota gantinya kurikulum. Sehingga pada awalnya saya mulai berandai-andai bahwa:<br />
-	Tahun depan ada rasionalisasi PNS<br />
-	Lembaga Funding tahun depan cabut dari Indonesia<br />
-	Kedepan seseorang akan dinilai dari kemampuannya bukan ijazahnya.<br />
Kita mulai dari hakikat KTSP bukan menghapal tapi memahami. Basis pendidikan yang kuat adalah orientasi untuk berproduksi dan berpengetahuan tujuannya diarahkan untuk menjadi bangsa yang mandiri. Orientasinya bukan untuk mendapatkan kerja karena ini akan menjadi masalah besar.<br />
Dalam menumbuhkembangkan budaya menulis di QT dilakukan dari keseharian saja. Di QT setiap hari anak harus menuliskan ide minimal 1000 karakter dan dalam seminggu menuliskan daftar telah membaca buku apa saja.<br />
Tentang Akhlak di QT yang ditekankan adalah bahwa menjadi orang yang penting tidak menyakiti orang lain dan syukur malah bisa bermanfaat bagi manusia lainnya.<br />
Kalau anak ngantuk ya dikasih bantal jangan ditimpuk penghapus. Kita harus selalu suport terhadap siswa, jangan ngakali siswa apalagi dengan kekerasan. Karena pendidikan adalah internalisasi nilai. Kenakalan anak yang penting jangan sampai merugikan orang lain.<br />
Yang tidak ada di Indonesia adalah learning capability atau kemauan untuk belajar. Belajar adalah mengupayakan kebaikan-kebaikan untuk kehidupan. Negara tugasnya memfasilitasi sumberdaya produksi dan guru harus diberi akses yang mudah untuk itu.<br />
Contohnya berikan guru kambing bukan gaji (sumberdaya produksi). Kambing tersebut dikelola bersama masyarakat lalu hasilnya untuk kesejahteraan guru. Sehingga akan ada manfaat ganda dimana produktifitas guru dan masyarakat  meningkat. Sehingga Freeport salah satu kekayaan yang luar biasa tidak sampai diserahkan kepada asing.<br />
Ngainun Naim<br />
Pengembangan pengetahuan yang harus dikuasai guru tidak haya yang tekstual. Bagaimana dia bisa memberdayakan diri bukan hanya dalam konteks pelajaran tapi dalam kehidupan yang lebih luas.<br />
Jika guru tidak datang dan murid senang maka pembelajaran berarti tidak sukses.<br />
Kunci dalam menyelesaian sesuatu adalah jika kita melakukan sesuatu dengan senang maka kita akan semakin produktif.<br />
Saya punya mahasiswa binaan, di sana saya tekankan dan ciptakan budaya baca dan tulis. Saya bagikan trik-trik yang mempermudah menulis dan membaca antara lain :<br />
•	Tulislah hal-hal yang diketahui<br />
•	tulislah dari hal-hal yang sederhana<br />
•	ingatan dan kenangan adalah hal terbaik (Milan Kundera)<br />
•	Mustofa Bisri menulis 170 buku kuncinya ikhlas<br />
•	Tuliskan sebuah ide yang akan memiliki anak ide yang lain<br />
•	Yakini apa yang dilakukan akan bermanfaat<br />
•	Membaca adalah obat tidur yang paling mujarab<br />
•	Membaca dengan penuh penghayatan banyak bermanfaat bahkan bisa mengubah kehidupan (the great power of reading)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/348/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/348/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/348/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/348/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/348/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/348/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/348/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/348/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/348/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/348/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/348/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/348/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/348/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/348/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakanpmiikebumen.wordpress.com&amp;blog=6266059&amp;post=348&amp;subd=gerakanpmiikebumen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/2010/07/11/sejumput-oleh-oleh-dari-seminar-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">gerakanpmiikebumen</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>INFO LOMBA KARYA TULIS ILMIAH 25 Juli 2010</title>
		<link>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/2010/07/10/info-lomba-karya-tulis-ilmiah-25-juli-2010/</link>
		<comments>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/2010/07/10/info-lomba-karya-tulis-ilmiah-25-juli-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jul 2010 11:50:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gerakanpmiikebumen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/?p=336</guid>
		<description><![CDATA[﻿<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakanpmiikebumen.wordpress.com&amp;blog=6266059&amp;post=336&amp;subd=gerakanpmiikebumen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>﻿<a href="http://gerakanpmiikebumen.files.wordpress.com/2010/07/iklan-seminar.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-337" title="Iklan Lomba Karya Tulis Ilmiah" src="http://gerakanpmiikebumen.files.wordpress.com/2010/07/iklan-seminar.jpg?w=542&#038;h=542" alt="" width="542" height="542" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/336/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakanpmiikebumen.wordpress.com&amp;blog=6266059&amp;post=336&amp;subd=gerakanpmiikebumen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/2010/07/10/info-lomba-karya-tulis-ilmiah-25-juli-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">gerakanpmiikebumen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://gerakanpmiikebumen.files.wordpress.com/2010/07/iklan-seminar.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Iklan Lomba Karya Tulis Ilmiah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KETENTUAN PEMBUATAN KARYA TULIS</title>
		<link>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/2010/07/10/ketentuan-pembuatan-karya-tulis/</link>
		<comments>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/2010/07/10/ketentuan-pembuatan-karya-tulis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jul 2010 11:41:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gerakanpmiikebumen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/?p=324</guid>
		<description><![CDATA[Bagi siswa SLTA se-Kebumen tahun 2010 1. Aturan Penulisan a)      Minimal 10 lembar b)      Spasi 1,5 c)      Ditulis dengan font Times New Roman ukuran 12 d)     Menggunakan kertas kwarto 80 gram 2. Sistematika Penulisan i.       Bagian awal -        Halaman judul -        Lembar Pengesahan -        Kata Pengantar -        Daftar Isi -        Abstraksi/Ringkasan Karya Tulis ii.       Bagian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakanpmiikebumen.wordpress.com&amp;blog=6266059&amp;post=324&amp;subd=gerakanpmiikebumen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagi siswa SLTA se-Kebumen tahun 2010</p>
<p><strong>1. </strong><strong>Aturan Penulisan</strong></p>
<p>a)      Minimal 10 lembar</p>
<p>b)      Spasi 1,5</p>
<p>c)      Ditulis dengan font Times New Roman ukuran 12</p>
<p>d)     Menggunakan kertas kwarto 80 gram<span id="more-324"></span></p>
<p><strong>2. Sistematika Penulisan</strong></p>
<p><strong><em>i.       Bagian awal</em></strong></p>
<p>-        Halaman judul</p>
<p>-        Lembar Pengesahan</p>
<p>-        Kata Pengantar</p>
<p>-        Daftar Isi</p>
<p>-        Abstraksi/Ringkasan Karya Tulis</p>
<p><strong><em>ii.       Bagian isi</em></strong></p>
<p><strong>BAB I  PENDAHULUAN</strong></p>
<p>-     Latar Belakang</p>
<p>-     Tinjauan Pustaka</p>
<p>-     Metode Pengumpulan Data</p>
<p><strong>BAB II   PEMBAHASAN</strong></p>
<p>-      Inti</p>
<p><strong>BAB III PENUTUP</strong></p>
<p>-     Kesimpulan</p>
<p>-     Saran</p>
<p><strong><em>iii.       Bagian akhir</em></strong></p>
<p>-        Daftar Pustaka</p>
<p>-        Daftar Riwayat Hidup</p>
<p><strong>3. </strong><strong>Pilihan Sub Tema</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>a)      Peran pemuda dalam mengaktualisasikan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam</p>
<p>b)      Pemuda dalam menyikapi dampak positif dan negative perkembangan IPTEK</p>
<p>c)      Inovasi karya pemuda dalam meningkatkan kemandirian ekonomi</p>
<p><strong>4. </strong><strong>Format</strong><strong> Penilaian </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<table style="height:590px;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="530">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align:center;" width="6%" valign="top"><strong>No </strong></td>
<td style="text-align:center;" width="44%" valign="top"><strong>Kriteria Penilaian</strong></td>
<td style="text-align:center;" width="13%" valign="top"><strong>Bobot</strong></td>
<td style="text-align:center;" width="36%" valign="top"><strong>Skor = bobot   x 1 s/d 10</strong></td>
</tr>
<tr>
<td style="text-align:center;" width="6%" valign="top">1</td>
<td width="44%" valign="top">Format Makalah:</p>
<p>Sistematika tulisan,   ukuran kertas, kerapihan ketik, jumlah halaman</td>
<td style="text-align:center;" width="13%" valign="top">10</td>
<td width="36%" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td style="text-align:center;" width="6%" valign="top">2</td>
<td width="44%" valign="top">Kreatifitas Topik   &amp; Gagasan:</p>
<p>Kesesuaian Judul dengan Topik, Keaslian gagasan, kreatifitas,   keterampilan menyampaikan Gagasan</td>
<td style="text-align:center;" width="13%" valign="top">10</td>
<td width="36%" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td style="text-align:center;" width="6%" valign="top">3</td>
<td width="44%" valign="top">Data &amp; Referensi:</p>
<p>Keakuratan,   keterkaitan data &amp; referensi dengan judul</td>
<td style="text-align:center;" width="13%" valign="top">15</td>
<td width="36%" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td style="text-align:center;" width="6%" valign="top">4</td>
<td width="44%" valign="top">Pembahasan &amp; Kesimpulan</p>
<p>Kemampuan menganalisis permasalahan, kemampuan menyimpulkan pembahasan</td>
<td style="text-align:center;" width="13%" valign="top">20</td>
<td width="36%" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td style="text-align:center;" width="6%" valign="top">5</td>
<td width="44%" valign="top">Presentasi:</p>
<p>Penyampaian yang sistematis</p>
<p>Keterampilan menjelaskan</p>
<p>Penggunaan Alat bantu</p>
<p>Cara presentasi (sikap)</p>
<p>Ketepatan waktu</td>
<td style="text-align:center;" width="13%" valign="top">25</td>
<td width="36%" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td style="text-align:center;" width="6%" valign="top">6</td>
<td width="44%" valign="top">Tanya Jawab:</p>
<p>Ketepatan dan   kejelasan jawaban</td>
<td style="text-align:center;" width="13%" valign="top">20</td>
<td width="36%" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td style="text-align:center;" colspan="3" width="63%" valign="top"><strong>Jumlah</strong></td>
<td style="text-align:center;" width="36%" valign="top"><strong>Skor Maksimal 100 </strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><em>5. </em>Pengumpulan Tulisan</strong></p>
<p>Paling Lambat tanggal 23 Juli 2010, di kirim langsung atau via Pos ke:</p>
<p>Sekretariat PC. PMII Kebumen</p>
<p>Jl. Joko Sangkrip Rt 02 RW I Kembaran Kebumen</p>
<p>(Barat Puskesmas Kembaran Kebumen)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>6. </strong><strong>Hadiah</strong></p>
<p>Juara I Uang Pembinaan sebesar Rp. 500.000,-</p>
<p>Juara II Uang Pembinaan sebesar Rp. 300.000,-</p>
<p>Juara III Uang Pembinaan sebesar Rp. 200.000,-</p>
<p>﻿</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/324/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakanpmiikebumen.wordpress.com&amp;blog=6266059&amp;post=324&amp;subd=gerakanpmiikebumen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/2010/07/10/ketentuan-pembuatan-karya-tulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">gerakanpmiikebumen</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>INFO : SEMINAR PENDIDIKAN 30 JUNI 2010</title>
		<link>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/2010/06/26/info-seminar-pendidikan-30-juni-2010/</link>
		<comments>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/2010/06/26/info-seminar-pendidikan-30-juni-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jun 2010 14:17:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gerakanpmiikebumen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gerakan Sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/?p=308</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakanpmiikebumen.wordpress.com&amp;blog=6266059&amp;post=308&amp;subd=gerakanpmiikebumen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://gerakanpmiikebumen.files.wordpress.com/2010/06/info-seminar.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-317" title="Info Seminar" src="http://gerakanpmiikebumen.files.wordpress.com/2010/06/info-seminar.jpg?w=510&#038;h=734" alt="" width="510" height="734" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/308/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/308/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/308/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakanpmiikebumen.wordpress.com&amp;blog=6266059&amp;post=308&amp;subd=gerakanpmiikebumen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/2010/06/26/info-seminar-pendidikan-30-juni-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">gerakanpmiikebumen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://gerakanpmiikebumen.files.wordpress.com/2010/06/info-seminar.jpg?w=104" medium="image">
			<media:title type="html">Info Seminar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GERAKAN MAHASISWA DI BERBAGAI NEGARA</title>
		<link>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/2010/05/23/gerakan-mahasiswa-di-berbagai-negara/</link>
		<comments>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/2010/05/23/gerakan-mahasiswa-di-berbagai-negara/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 May 2010 04:04:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gerakanpmiikebumen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diskusi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/?p=296</guid>
		<description><![CDATA[Akhir kolonialisme di abad 20 an menjadi awal munculnya gerakan intelektual. Saat itu sejarah pergolakan di berbagai negara banyak diwarnai heroisme darah muda khususnya mahasiswa pemarah. Secara sepintas lalu kata pemarah menyiratkan makna sikap yang buruk dengan watak kasar, pemberang, tidak sabaran, gampang naik pitam, dan banyak sinonim yang setimpal buruknya. Tapi pengertian akan berbalik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakanpmiikebumen.wordpress.com&amp;blog=6266059&amp;post=296&amp;subd=gerakanpmiikebumen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhir kolonialisme di abad 20 an menjadi awal munculnya gerakan intelektual. Saat itu sejarah pergolakan di berbagai negara banyak diwarnai heroisme darah muda khususnya mahasiswa pemarah. Secara sepintas lalu kata pemarah menyiratkan makna sikap yang buruk dengan watak kasar, pemberang, tidak sabaran, gampang naik pitam, dan banyak sinonim yang setimpal buruknya. <span id="more-296"></span>Tapi pengertian akan berbalik jika sifat pemarah itu justru muncul dari kegelisahan mendalam tentang ketimpangan, ketidakadilan, kelaliman yang menghimpit kemajuan negaranya. Atau juga sifat pemarah ini muncul dari pengekangan atas kebebasan menyurakan aspirasi dan kebebasan berpendapat di negaranya. Sikap berang semacam ini perlu dan malah menjadi semacam sikap patriotik tertentu jika murni dan ikhlas ditujukan untuk membebaskan rakyat banyak dari jeratan kebodohan dan kemalangan akibat penguasa yang menafikan rakyatnya sendiri.</p>
<p>Jargon ampuh mahasiswa sekaligus identitas yang membedakannya dari elemen lain adalah idealisme. Ia menjadi roh penggerak perjuangan untuk tatanan yang lebih adil dengan mengabaikan egoisme dan mempertaruhkan jiwa raga. Rekam jejak idealisme mahasiswa dalam memperjuangkan perubahan sistem sosial, ekonomi, politik dan sampai berdarah-darah tidak hanya terjadi di Indonesia. Mahasiswa di luar negeri pun dalam simpul-simpul pergerakan masing-masing bergerak mati-matian atas nama idealisme. Meskipun perjuangan demi rakyat dan merombak tatanan yang tidak adil wajib mendapat cobaan yang berat, intimidasi, penculikan, pemenjaraan, penyiksaan sampai pembunuhan.</p>
<p>Sejak dulu mahasiswa menjadi sisi paradoksal kekuasan diktator. Tilik saja bagaimana perlawanan mahasiswa Hongaria melawan kekuasaan boneka Unisoviet, akhirnya meledakkan revolusi yang dibayar dengan ratusan nyawa mahasiswa dan sipil sebagai harga perubahan. Demikian juga Mahasiswa Yunani yang menentang keuasaan raja yang semaunya menginjak-injak konstitusi. Mahasiswa Portugal melawan diktator Antonio Salazar. Mahasiswa Spanyol menghadapi rezim militeristik pimpinan Franco. Di Prancis mahasiswa kiri melawan pemerintahan De Gaulle meskipun patah karena briliannya permainan pemerintah mengerahkan <em>pressure group.</em> Mahasiswa Jerman menolak monopoli kekuasaan dan monopoli pemikiran yang didiktekan pemeritah. Demikian halnya di Negara-negara di Amerika latin yang banyak dikuasai diktator semena-mena seperti Stroesner di Paraguay, Somoza di Nikaragua, Duvalier di Haiti dan Fruentes di Guatemala yang menimbulkan ketidakpuasan di kalangan rakyat. Di Nikaragua misalnya anggaran pendidikan hanya 3 % sedang anggaran militer 40% akhirnya menimbulkan kebodohan dan kemiskinan, pengangguran bahkan kelaparan. Di ujung benua hitam, mahasiswa Aljazair menghadapi kesewenang-wenangan penjajahan Prancis. Mahasiswa Aljazair merapatkan diri dalam Front Pembebasan Nasional dan harus berhadapan dengan senapan, bayonet, yang merobek-robek tubuh mereka. Panjang jika diuraikan di sini apa yag terjadi di Mesir, Iran, Turki, Nepal, Korea, Filiphia hingga negeri kita sendiri  Indonesia.</p>
<p>Rentetan perjuangan mahasiswa dalam memukul mundur hantu keditatoran merupakan manifestasi kesadaran bahwa hidup dalam tekanan bertolak belakang dengan rasa kemanusiaan dan keadilan dan pasti akan mendapat perlawanan. Ada adagium yang mengatakan bahwa jika seorang mahasiswa bias -tidak mau, tidak peduli- menyelesaikan masalah-masalah di sekitarnya maka ia adalah bagian dari masalah tersebut. Jika masyarakat menggeliat gelisah terhadap situasi kehidupan mereka sudah seharusnya mahasiswa peka dan bergegas melompati pagar kampus dan berdiri paling depan untuk membela. Sebagai <em>spes patriare</em> atau harapan bangsa mata hati mahasiswa tidak boleh terlena oleh pragmatisme dan hedonisme yang mengkerdilkan semangat pembelaan terhadap yang tertindas.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/296/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakanpmiikebumen.wordpress.com&amp;blog=6266059&amp;post=296&amp;subd=gerakanpmiikebumen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/2010/05/23/gerakan-mahasiswa-di-berbagai-negara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">gerakanpmiikebumen</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PUTARAN KEDUA PMII  TETAP KONSISTEN NETRAL AKTIF</title>
		<link>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/2010/05/16/putaran-ke-dua-pmii-tetap-konsisten-netral-aktif/</link>
		<comments>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/2010/05/16/putaran-ke-dua-pmii-tetap-konsisten-netral-aktif/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 May 2010 13:26:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gerakanpmiikebumen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sikap/Tuntutan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/?p=278</guid>
		<description><![CDATA[Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kebumen memandang pemilukada putaran pertama pada 11 April yang lalu sebagai patahan demokrasi. Dari luar terlihat berlangsung dengan kondusif tapi  ternyata dicacati aksi bagi-bagi uang yang dilakukan secara langasung atau tidak langsung dari semua kubu. Sudah barang tentu praktik kecurangan yang terjadi akan membawa citra buruk bagi perkembangan demokrasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakanpmiikebumen.wordpress.com&amp;blog=6266059&amp;post=278&amp;subd=gerakanpmiikebumen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kebumen memandang pemilukada putaran pertama pada 11 April yang lalu sebagai patahan demokrasi. Dari luar terlihat berlangsung dengan kondusif tapi  ternyata dicacati aksi bagi-bagi uang yang dilakukan secara langasung atau tidak langsung dari semua kubu. Sudah barang tentu praktik kecurangan yang terjadi akan membawa citra buruk bagi perkembangan demokrasi di kabupaten Kebumen.<span id="more-278"></span></p>
<p>Praktek yang disebut dalam budaya lokal sebagai pergenthoan menggejala sudah sejak pemilihan kepala desa dan berlanjut ketika momen pemilihan pemimpin baik skup lokal ataupun nasional. PMII dengan metodologi berfikir <em>Ahlu sunnah wal jamaah </em>menentang keras segala bentuk money politik karena mudah memicu konflik horizontal. Kami menghimbau kepada panwaslu dan aparat keamanan dari tingkat kabupaten hingga kecamatan untuk lebih serius mengatasi kecurangan dan bertindak professional. Dalam pilkada tahap ke-2. jangan ragu menangkap basah oknum-oknum yang kedapatan melakuan praktek serangan-serangan fajar.</p>
<p>Pada pemilukada tahap ke dua PMII tetap berkomitmen pada posisi netral aktif. Kami menyayangkan pihak-pihak yang mencatut nama PMII untuk kepentingan tertentu sehingga dihadapan publik PMII terkesan tidak konsisten terhadap pilihan geraknya. PMII secara organisasi tetap berada di jalur independensi tidak memihak siapapun. Terlebih alumni-alumni PMII tersebar di dua pasangan calon baik pasangan Nasirudin-Probo ataupun Buyar-Djuwarni. Kami menghormati pilihan politik mereka dan mengharapkan alumni bisa menjadi contoh dalam mempraktekkan demokrasi yang substansial.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/278/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakanpmiikebumen.wordpress.com&amp;blog=6266059&amp;post=278&amp;subd=gerakanpmiikebumen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/2010/05/16/putaran-ke-dua-pmii-tetap-konsisten-netral-aktif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">gerakanpmiikebumen</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENDIDIKAN NASIONAL BELUM MEMBEBASKAN</title>
		<link>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/2010/05/16/pendidikan-nasional-belum-membebaskan/</link>
		<comments>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/2010/05/16/pendidikan-nasional-belum-membebaskan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 May 2010 13:23:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gerakanpmiikebumen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gerakan Sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/?p=273</guid>
		<description><![CDATA[Pergerakan Mahasiswa Islam Indnesia (PMII) Cabang Kebumen, Minggu 2/5/2010 melaksanakan kegiatan diskusi kultural yang membedah kondisi dunia pendidikan di Indonesia. Acara ini dilaksanakan secara santai dengan duduk lesehan di alun-alun Kebumen tepatnya di warung agkringan depan pendopo Kabupaten. Hadir dalam diskusi itu para praktisi pendidikan dari sekolah luar biasa, sekolah umum, dan sekolah alternative. Dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakanpmiikebumen.wordpress.com&amp;blog=6266059&amp;post=273&amp;subd=gerakanpmiikebumen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pergerakan Mahasiswa Islam Indnesia (PMII) Cabang Kebumen, Minggu 2/5/2010 melaksanakan kegiatan diskusi kultural yang membedah kondisi dunia pendidikan di Indonesia. Acara ini dilaksanakan secara santai dengan duduk lesehan di alun-alun Kebumen tepatnya di warung agkringan depan pendopo Kabupaten. Hadir dalam diskusi itu para praktisi pendidikan dari sekolah luar biasa, sekolah umum, dan sekolah alternative.<span id="more-273"></span></p>
<p>Dalam diskusi terungkap bahwa saat ini dunia pendidikan Indonesia masih belum membebaskan. Artinya pendidikan masih terkungkung pada sistem formalitas belum mengacu pada upaya mencerdaskan kehdupan bangsa dan baru sebatas mengejar target normatif misalnya Ujian Akhir Nasional (UAN). Ini berakibat pendidikan belum mampu mengantarkan peserta didiknya menjadi pribadi-pribadi unggul, mandiri dan berkembang sesuai bakat alamiah yang dimiliki,  demikian seperti yang diungkapkan Dwi Kurniawan yang juga ketua PC. PMII Kebumen.</p>
<p>Ia menambahkan, Semestinya paradigma yang dibagun adalah berbasis karya. Faktanya pendidikan saat ini lebih berorientai pada tuntutan selera pasar dimana nalar pasar ini telah merata dalam benak masyarakat. Ketika seorang mahasiswa telah menyelesaikan study maka yang ditanya dimana ia bekerja bukan apa karya yang sudah dihasilkan.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Apa yang diugkapkan Syahid Amrulloh salah seorang pengajar di Sekolah Luar biasa di Kemukus menjadi renungan kita bahwa pada dasarnya kewajiban mendidik anak adalah di tangan orang tua sendiri, bagaimanapun orang tua harus mendampingi putra-putrinya dalam memperoleh pendidikan meskipun sudah dipercayakan di sekolah tertentu.</p>
<p>Rimba Palangka, praktisi pendidikan dari salah satu SMP di Kalijaya Alian mengutarakan, pendidikan nasional saecara tidak langsung membodohkan dan mengekang. Sekolah formal malah membatasi kreatifitas guru dalam menyampaikan variasi model belajar. Selain itu guru sendiri seharusnya juga memiliki kiat-kiat untuk memotivasi siswa agar gemar membaca. Menurutnya guru akan tercengang dengan kemampuan siswa jika budaya membaca sudah tercipta di lingkungan sekolah.</p>
<p>Lain lagi dari eksplorasi dari pendamping Sekolah Komunitas Kampung Jagad, Dariman mengungkapkan bahwa pendidikan itu semestinya meletakkan peserta didik sebagai subyek. Di Sekolah alternativenya tidak ada guru yang ada adalah pendamping. Menurutnya penyebutan guru akan menciptakan jarak dengan anak didik. Pada saat tertentu pendamping malah bisa belajar dari siswa, menurut hematnya posisi seperti ini menciptakan keakraban sehingga suasana belajar menjadi cair dan anak-anakpun menjadi lebih terbuka, demikian pungkasnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/gerakanpmiikebumen.wordpress.com/273/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=gerakanpmiikebumen.wordpress.com&amp;blog=6266059&amp;post=273&amp;subd=gerakanpmiikebumen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gerakanpmiikebumen.wordpress.com/2010/05/16/pendidikan-nasional-belum-membebaskan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">gerakanpmiikebumen</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
